oleh

Lepas 660 Alumni FITK UIN Jakarta, Lukman Hakim Saifuddin Tekankan Pentingnya Guru yang Terus Belajar

BENGKULU.SIBERINDO.CO – Setiap orang pada hakikatnya adalah pengajar sekaligus pendidik, setidaknya bagi dirinya sendiri dan lingkungan terdekatnya. Karena itu, seorang pengajar dituntut untuk terus belajar. Mengajar dan belajar merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Demikian disampaikan Menteri Agama periode 2014–2019, Lukman Hakim Saifuddin, saat memberikan pembekalan pada acara Pelepasan Alumni dan Yudisium Wisuda ke-141 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta.

“Setiap kita hakikatnya adalah pengajar dan pendidik, setidaknya untuk diri dan lingkungan terdekat kita sendiri. Karenanya, setiap pengajar dituntut untuk senantiasa belajar. Mengajar dan belajar adalah satu kesatuan. Setiap mengajar menuntut belajar. Pun sebaliknya, setiap yang kita pelajari harus diamalkan dan diajarkan kepada orang lain,” papar Lukman, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, proses belajar dan mengajar akan menemukan maknanya ketika dilakukan atas dasar kecintaan terhadap bidang yang ditekuni. Ilmu tidak semestinya hanya menjadi pengetahuan yang tersimpan dalam diri, tetapi perlu dihidupkan melalui pengamalan dan dibagikan kepada orang lain.

“Dalam belajar dan mengajar, bidang yang kita tekuni haruslah yang kita senangi. Aktivitas yang kita geluti haruslah berbasis cinta. Sebab rasa cintalah yang menjadi energi tiada tertandingi dalam kiprah kita, termasuk dalam menimba dan menebarkan ilmu pengetahuan,” ungkap mantan Menteri Agama tersebut.

Baca Juga  Pemkot Berbagi Nasi Kotak Untuk Fakir Miskin

Lukman juga mengajak para calon alumni FITK untuk meneladani sosok-sosok guru yang memiliki dedikasi dan ketulusan dalam menjalankan tugas pendidikan. Ia mengisahkan salah satu guru inspiratif yang pernah dimuat dalam buku Keteladanan Sosok Para Guru Madrasah Inspiratif, yang diterbitkan Kementerian Agama ketika dirinya menjabat sebagai Menteri Agama.

Dalam buku tersebut, kata Lukman, terdapat kisah seorang guru yang memiliki dedikasi luar biasa. Guru itu rela berenang sejauh satu mil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya digunakan untuk menjaga agar pakaiannya tetap kering. Hal tersebut dilakukan semata-mata agar ia dapat tetap hadir mengajar dan mendampingi peserta didik madrasah yang berada di sebuah pulau.

“Sang guru ini telah memberikan inspirasi yang sangat luar biasa bagi kita, terutama calon guru, untuk terus menebarkan semangat berkorban dan ketulusan demi pendidikan,” tegas Lukman.

Kisah tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa menjadi guru bukan sekadar menjalankan sebuah profesi, melainkan menjalankan panggilan pengabdian. Guru dituntut untuk hadir bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan keteladanan, kepedulian, dan kecintaan kepada peserta didik.

Baca Juga  Gebyar Vaksin Bhayangkara, Polres RL Sediakan Doorprize 2 Unit Motor dan Bermacam Hadiah Lainnya

Karena itu, Lukman berharap para calon alumni FITK tidak berhenti pada pencapaian akademik yang diraih. Ilmu dan gelar yang diperoleh hendaknya menjadi bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Wakil Rektor Bidang Administrasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Imam Subchi, menyampaikan bahwa pada momentum Pelepasan Alumni dan Yudisium Wisuda ke-141 FITK UIN Jakarta, sebanyak 660 calon alumni dilepas. Mereka berasal dari 18 program studi yang ada di lingkungan FITK.

“Pada momentum ini, FITK UIN Jakarta melepas 660 alumni, yang terdiri atas 2 doktor, 44 magister, dan 614 sarjana dari berbagai program studi. Angka 660 bukan sekadar jumlah. Di balik angka tersebut terdapat 660 perjalanan, 660 perjuangan, 660 keluarga yang mendukung, dan insyaallah 660 kontribusi yang akan diberikan kepada masyarakat,” ungkap Imam.

Menurut Imam, kelulusan bukanlah titik akhir dari proses pendidikan. Sebaliknya, momentum yudisium harus dimaknai sebagai awal memasuki ruang pengabdian yang lebih luas.

“Karena itu, saya ingin mengajak para calon alumni untuk memaknai hari ini bukan semata-mata sebagai akhir dari perjalanan pendidikan, tetapi justru sebagai awal dari perjalanan pengabdian,” ujarnya.

Baca Juga  Pelaku Penusukan Hingga Tewas Karena Mantan Istri Disakiti, Terancam Hukuman Seumur Hidup

Ia menegaskan, khususnya bagi para lulusan FITK yang dipersiapkan menjadi pendidik, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari kemampuannya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik.

“Seorang guru tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui oleh murid, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana ilmu digunakan, bagaimana perbedaan dihargai, bagaimana persoalan diselesaikan, dan bagaimana kehidupan dijalani dengan penuh tanggung jawab,” lanjutnya.

Acara tersebut dihadiri Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Imam Subchi, M.A., Dekan FITK UIN Jakarta Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D., para wakil dekan, ketua dan sekretaris program studi di lingkungan FITK UIN Jakarta, serta 660 calon alumni.

Pelepasan Alumni dan Yudisium Wisuda ke-141 tersebut menjadi momentum penting bagi FITK UIN Jakarta untuk melepas para lulusan memasuki fase baru kehidupan akademik, profesional, dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi para calon guru, pesan Lukman Hakim Saifuddin menjadi pengingat bahwa pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dikuasai, tetapi seberapa besar ilmu tersebut dihidupkan melalui keteladanan dan kebermanfaatan.(****)

 

News Feed