BENGKULU.SIBERINDO.CO – Dr. phil. Edo Sebastian Jaya, salah satu narasumber pada Singapore-Indonesia Youth Leaders Exchange Programme (SIYLEP) 2026, menyampaikan bahwa generasi muda perlu memiliki resiliensi atau kemampuan untuk bangkit menghadapi kesulitan, termasuk keberanian untuk meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Pesan tersebut disampaikan saat membawakan materi tentang resiliensi kepada peserta Singapore-Indonesia Youth Leaders Exchange Programme (SIYLEP) di Ruang Seni Rupa, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Selasa (27/10).
“Yang ingin saya beri pesan pada para pemuda adalah mencari bantuan itu bukanlah pertanda kelemahan. Justru mencari bantuan itu mungkin salah satu hal yang bisa jadi sumber kekuatan kita,” ujar Edo.
Menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk bertahan. Menurut Edo, resiliensi menjadi bekal penting bagi generasi muda di tengah berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian global dan nasional hingga bencana yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan, kemampuan menghadapi kesulitan tidak selalu berarti seseorang harus menyelesaikan semua persoalan seorang diri. Sebaliknya, kesediaan untuk terbuka dan mencari dukungan dari orang lain merupakan bagian penting dari upaya menjaga ketahanan diri.
Nilai tersebut, lanjutnya, sejatinya telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia melalui semangat gotong royong. Tradisi saling membantu ini dapat menjadi salah satu sumber kekuatan bagi anak muda untuk menghadapi tantangan, baik secara individu maupun bersama-sama.
Materi resiliensi yang disampaikan Edo mendapat respons positif dari peserta SIYLEP. Para peserta dinilai dapat menghubungkan materi tersebut dengan pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan masing-masing.
“Mereka bisa masing-masing cerita dan berbagi mengenai kesulitan yang dialami pada konteksnya masing-masing,” kata Edo.
“Ruang berbagi pengalaman ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk memahami bahwa setiap orang memiliki tantangan berbeda. Melalui percakapan dan saling mendengarkan, mereka juga dapat melihat pentingnya dukungan sosial dalam menghadapi persoalan,” imbuhnya.
Bagi generasi muda yang tengah mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan, kemampuan memahami diri sendiri, mengenali kesulitan, dan membangun hubungan yang suportif menjadi bekal yang tidak kalah penting dari kecakapan akademik maupun profesional.
Edo menekankan bahwa ketika menghadapi masalah, anak muda tidak perlu ragu untuk mencari pertolongan. Dukungan dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti teman dan orang-orang yang dipercaya, hingga bantuan profesional apabila diperlukan.
“Yang ingin saya sampaikan mungkin tetap optimis dan kalau ada kesulitan itu selalu bisa minta bantuan. Bantuan itu bisa ke teman, ke sesama, ataupun ke profesional seperti psikolog klinis,” tuturnya.
Pesan tentang resiliensi juga relevan bagi generasi muda Indonesia yang akan menyongsong satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman, pemuda dituntut tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga tetap tangguh, terbuka terhadap dukungan, dan mampu bekerja sama dalam menghadapi persoalan.
Melalui SIYLEP, pertukaran pengalaman dan gagasan antarpemuda Indonesia dan Singapura dapat menjadi ruang untuk memperluas perspektif sekaligus membangun hubungan yang saling mendukung.
Edo mengapresiasi pelaksanaan program tersebut yang dinilainya berlangsung dengan baik. Ia juga melihat semangat dan antusiasme peserta selama mengikuti kegiatan.
“Acara SIYLEP ini sangat berkesan, sangat rapi. Panitianya semangat, pesertanya luar biasa semangat dan antusias, dan mereka semua sangat senang dengan acara SIYLEP ini,” ungkapnya.
Pada akhirnya, menjadi tangguh bukan berarti tidak pernah merasa kesulitan. Resiliensi justru tumbuh ketika seseorang mampu mengenali tantangan, bersedia belajar dari pengalaman, dan tidak segan mencari bantuan saat membutuhkannya.
“Bagi para pemimpin muda masa depan, semangat gotong royong dapat menjadi pengingat bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari kemampuan berdiri sendiri, tetapi juga dari keberanian untuk saling menguatkan,” tutupnya.(***)










