oleh

Persatuan Gereja Indonesia Meminta Pemerintah Berhati Hati

Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia Meminta Pemerintah berhati hati terhadap keputusan yang dikeluarkan yang menetapkan kelompok criminal Bersenjata (KKB) sebagai kelompok teroris. Status itu diumumkan oleh Menko Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia pada 29 April 2021. Pelabelan itu pula dikhawatirkan akan berdampak psikososial pada masyarakat papua. Juga bagi warga papua yang berada di daerah perantauan.

Menyikapi Rentetan Peristiwa kekeerasan yang terjadi dipegunungan Tengah Papua, adapun beberapa pendapat Persatuan Gereja Indonesia mengenai peristiwa tersebut.

  • Meminta Negara lebih hati hati mengenai keputusan tersebut. Pendekatan kekerasan dan Security Approach yang digunakan selama ini terbukti tidak menyelesaikan masalah papua, hanya menimbulkan kebencian dimasyarakat.
  • Pemerintah agar focus kepada akar masalah papua dengan pendekatan humanis dan kultural menuju papua tanah damai . Sudah banyak hasil kajian yang menunjukkan upaya menuju papua tanah damai. Semisal “Road Map Papua”, yang dikeluarkan LIPI sebagai hasil studi dan kajian secara komprehensif bertahun tahun.
  • Menyelesaikan masalah papua dengan solusi damai adalah jauh lebih bijaksana daripada menambah rumit upaya damai yang terus disuarakan oleh gereja gereja di Indonesia. Pemerintah harus tetap optimis bahwa jalan damai bagi papua itu alangkah yang benar dan tepat seperti pengalaman yang sukses di Aceh.
  • Meningkatnya eskalasi kekerasan di Pegunungan Tengah Papua. Akhir akhir ini perlu dievaluasi pemerintah secara menyeluruh. Peran pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan didaerah perlu ditingkatkan secara signifikan untuk memediasi dan mengakhiri kekerasan di Pegunugungan Tengah Papua. Hasil evaluasi tersebut dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan baru yang lebih manusiawi bagi masyarakat papua dan wibawa Negara dihormati karena bijak menyikapi situasi papua.
  • Pemerintah perlu meberikan perhatian penuh terhadap ribuan warga yang terpaksa mengungsi meninggalkan kampong halaman mereka sebagai akibat dari operasi militier di Nduga, Intan Jaya dan Puncak Papua

Komentar

News Feed