Adalah Octy Avriani Negara, kader Himpunan mahasiswa Islam (HMI) yang saat ini sedang menjabat sebagai wasekjend Korps HMI-wati PB HMI. Memberikan pandangannya terkait Stanting pada anak-anak Indonesia.
Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Permasalahan klasik yang disebutnya sebagai problem kemanusiaan modern ini, mengusik nalar aktivisme Octy ketika mengetahui data jumlah kasus Stanting anak Indonesia yang mencapai 1,3 juta setiap tahunnya.
Angka yang sengaja diungkap oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam diskusi virtual dengan Beritasatu.com, pada Selasa (16/2/2021) ini, juga menjelaskan bahwa Angka itu dihitung dari 27,6% dari 4,8 juta bayi yang lahir setiap tahun.
“Sulit untuk mengabaikan Kabar buruk yang sejak lama berkontribusi terhadap rendahnya kualitas SDM Indonesia ini. Saya kira angka Stanting akan terkait erat dengan Indeks pembangunan Manusia (IPM)”, ujar Octy saat ditemui di bilangan tebet Jakarta pada, (23/02).
Mahasiswa pasca sarjana STIE Swadaya Jakarta ini juga meyakini bahwa, tingginya angka Stanting juga saling mempengaruhi secara langsung dengan angka pengangguran dan tingkat kemiskinan.
“Karena secara kumulatif, hampir bisa dipastikan bahwa penyebab utama penyakit sosial ini adalah diakibatkan oleh tingkat kemiskinan. Dan dalam jangka panjang, anak yang Stanting cenderung sulit untuk tumbuh dan berkembang sesuai standart SDM yang unggul”, urai wanita berdarah melayu itu.
Meskipun, tambah Octy, Pemerintah telah menyusun lima strategi nasional untuk percepatan penurunan angka stunting dan pencegahannya, namun ego sektoral lintas kementrian dan lembaga dinilai masih menjadi kendala san penghambat yang serius.
“Masih terdapat gap kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Sangat disayangkan urusan krusial seperti Stanting justru tidak dijadikan prioritas pemerintah”, kata Octy.
Pemerintah, ungkap Octy, harus menunjukan keseriusannya dalam menangani masalah ini.m, terutama bagi Kementerian dan lembaga terkait. Baik kementerian sosial, kementerian kesehatan dan kementerian dibawah koordinasi kementerian koordinator pembagunan manusia dan kebudayaan (PMK).
“Masyarakat harus dilibatkan dan diberikan akses terhadap makanan bergizi dan mendorong ketahanan pangan. Terutama di tengah pandemik Covid-19 ini”, ujarnya.
Lebih lanjut, Octy menerangkan bahwa, gaya hidup generasi millennial saat ini cenderung tidak sehat. Sebagai generasi yang produktif, maka para remaja harus memiliki pengetahuan mengenai hidup sehat agar dapat melahirkan generasi yang unggul.
“Kohati PB HMI harus menjadi bagian strategis dari agenda kemanusiaan ini. Indonesia butuh Solusi yang memanusiakan, dan saya percaya dalam konteks ini Kohati memiliki infrastruktur pemberdayaan kualitas perampuan yang telah teruji waktu.
Seperti diketahui, dampak stunting umumnya terjadi disebabkan kurangnya asupan nutrisi pada 1.000 hari pertama anak. Hitungan 1.000 hari di sini dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun.
Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%). Tahun 2015 Indonesia tertinggi ke-2 dibawah Laos untuk jumlah anak stunting. Indonesia merupakan negara nomor empat dengan angka stunting tertinggi di dunia. Lebih kurang sebanyak 9 juta atau 37 persen balita Indonesia mengalami stunting.
(Pewarta : Kerdil)









Komentar