oleh

Sistem Ekonomi Neoklasik yang terjadi di Indonesia

Oleh: Sherlina Aprianti Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Bengkulu 

Bengkulu, Siberindo.co – Secara garis besar untuk menggambarkan proses perkembangan ekonomi tergantung pada apakah seseorang menggunakan kerangka analisis neo-klasik atau Marxian. Model neo-klasik memandang proses pembangunan secara bertahap, halus, seimbang, dan harmonis dengan efek-efek penyebaran yang menguntungkan. Pada kutub lain, model Marxian memandang proses

perkembangan sebagai ketidakseimbangan dan mengganggu (disruptive) yang penuh konflik sosial dengan efek-efek yang kurang baik. Setiap model pengembangan memiliki kekuatan dan
kelemahan, sehingga hal terbaik adalah menggabungkan yang terbaik dari kedua model untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tepat dan memadai dari proses perkembangan ekonomi.

Dimana Indonesia kini terperangkap sistem ekonomi neoklasik yakni ekonomi yang mengurangi kekayaan negara dari sumber daya alam, dan sumber daya manusia. “Jika sistem ini masih terus terjadi di Indonesia maka itu artinya sama dengan menjual masa depan untuk dikonsumsi hari ini.

Indikasi praktik ekonomi neoklasik sudah sampai ke desa-desa ditandai pasar di pedesaan menjadi sepi, perilaku konsumtif sebagian masyarakat pedesaan beralih membeli kendaraan bermotor ketimbang membeli produk lain. uang untuk membeli motor mereka peroleh secara kredit ke bank dan perusahaan leasing dimana harus membayar cicilan sepeda motor sebelum membelanjakan untuk keperluan lain.

Baca Juga  Resmi Beroperasi, Wali Kota Helmi Harap PT BPRS Fadhilah Beri Layanan Terbaik

Dampaknya, produksi perkebunan dan pertanian yang awalnya meningkat kemudian menurun. Seiring penurunan permintaan dunia dan penurunan harga komoditas ekspor terhadap komoditas
yang mereka jual. “Mirisnya pendapatan petani menurun drastis, dampaknya pasar di pedesaan menjadi lemah sesuai laporan BPS beberapa bulan terakhir yakni inflasi di pedesaan lebih rendah
dibandingkan perkotaan, dan penduduk miskin di pedesaan meningkat”.

Dimana sistem ekonomi neoklasik meruntuhkan sistem ekonomi dunia dan mengancam ke sistem ekonomi yang bertumpu pada permintaan, kebutuhan, ketersediaan, distribusi barang produksi tanpa mempedulikan negara atau masyarakat mempunyai uang dan sumber daya untuk

Bertransaksi di pasar. Padahal setiap kebutuhan uang atau anggaran disediakan dalam bentuk hutang sehingga pada sistem APBN selalu mempertahankan defisit setiap tahun. Sementara itu merujuk data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Juni 2016 naik 5,18
persen. Angka ini menunjukkan konsumsi masyarakat pemerintah masih tetap tinggi.

Baca Juga  Wakil Ketua II DPRD Provinsi Dorong Agar Pembangunan Tol Bengkulu-Lubuk Linggau Rampung Pada2024

Pada sisi lain, ekspor dan impor turun atau tercatat -2,73 persen dan -3,01 persen. Pendapatan negara pada semester pertama turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp33,249 triliun atau hanya mencapai 35,5 persen dari target APBN-P 2016 lebih rendah dari capaian tahun lalu yang mencapai 41,5 persen dari target APBN-P 2015.

Belanja pemerintah di APBN-P 15 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Artinya pemerintah memacu konsumsi ditengah lemahnya permintaan pasar. Pada satu sisi kebijakan ini diharapkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi, akan tetapi di sisi lain jsutru beresiko, dan mengakibatkan pemerintah terjaring, terperangkap hutang.

Sementara itu pendapatan mulai berkurang karena pengeluaran pemerintah dan masyarakat melebihi pendapatan. Untuk menutupi kekurangan itu, Indonesia terpaksa memakai cara hutang
dalam berbagai instrumen dan mekanisme. “Hal ini ditunjukkan pertumbuhan jasa keuangan sesuai data BPS Agustus 2016 yang tercatat sebesar 11,8 persen tertinggi dari kelompok lain dan
jauh lebih besar dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,18 persen itu”.

Baca Juga  Penguatan Sinergi Cendikia Muslim Dalam Momentum Buka Puasa Ramadhan Bersama ICMI Dan Pemuda ICMI Orwil Bengkulu

Oleh karena itu menurut saya pemerintah seharusnya selektif memilih program kerja, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat daya guna untuk menyelamatkan keuangan negara. Kalaupun terpaksa pemerintah harus memotong anggaran negara, mengurangi defisit anggaran secara bertahap, menunda sebagian program kerja yang telah direncanakan untuk program prioritas yang telah disusun. Selain itu pemerintah juga harus mempertimbangkan kondisi masyarakat, untuk menahan laju pertumbuhan ekonomi disamping pemerintah juga harus menahan laju penurunan pertumbuhan ekonomi agar tidak turun dratis guna menghindari gejolak.

Pemerintah perlu mengurangi defisit anggara secara bertahap, dan memikirkan menyusun anggaran agar surplus bisa diperoleh, dan dapat dipakai untuk pemerataan modal kerja masyarakat di dalam negara untuk memperkuat perekonomian negara, selanjutnya menimbukan kepercayaan yang lebih besar pada pemerintah.

 

 

Bengkulutoday.com

Komentar

News Feed